Terima Kasih
Aku terkejut ketika kamu hadir kembali
dalam hidupku, kamu katakan salam untuk diriku. Entah mengapa jantung ku
kembali berdetak cepat, sama seperti saat pertama kali aku bertemu kamu.
Mungkin karena sudah cukup lama hati ku mati dengan rasa sayang, aku tidak
mengerti apa yang aku rasakan lagi saat ini. Apa mungkin aku masih menyimpan
rasa sayang padamu? Atau hanya rasa nafsu karena sudah lama aku berjalan
sendiri?
aku bahagia keyakinan ku menjadi kenyataan,
kamu kembali di hadapan ku. entah apakah aku harus bahagia atau bersedih, yang
aku tahu hati ku kembali berwarna setelah kembalinya dirimu sekarang.
aku sudah memaafkan mu sebelum kamu
menyadari bahwa kamu menyesal melakukan semuanya. aku cukup bahagia dengan kita
yang sekarang.
namun lagi-lagi aku harus menerima kenyataan
pahit, ternyata kebahagian itu hanya sebentar dapat aku rasakan, dalam hitungan
hari kamu kembali menjadi sosok yang harus aku lupakan. semua itu sama seperti
dulu, sama seperti disaat kamu lebih memilih bersama dia dibandingkan bersama ku . ya kamu memang masih mengarapkan
dirinya, seharusnya kamu tidak usah berbalik dan menoleh ke arah ku, bahkan
harus memberi warna lagi dalam hidupku. saat ini terasa lebih menyakitkan,
sangat – sangat menyakitkan, ketika aku harus mendengar ucapan mu bahwa kamu
masih ingin bersama dia, rasanya seperti bumerang yang menyerang tept ke arah
ku. ya sekuat apapun aku menahan mu (lagi), aku yakin aku tidak akan mampu. aku
lebih merelakan mu memilih kebahagiaan mu sendiri.
seiring waktu berlalu aku sudah lega karna
aku sudah bisa mengatasi amarah dan kekecewaanku terhadap dirimu.
terima kasih untuk mu yang pernah ada dalam
setiap doa ku, terima kasih telah memperkenalkan ku indahnya disayangi atau
menyayangi dan terima kasih untuk pahitnya kekecewaan.
Komentar
Posting Komentar